Showing posts with label Clinical Nutrition and Metabolism. Show all posts
Showing posts with label Clinical Nutrition and Metabolism. Show all posts


ILMU GIZI KLINIK
Oleh dr. Yulia Wardany



1. PENDAHULUAN
            Pemberian makanan dan gizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh sangat penting untuk mempertahankan kesehatan yang optimal. Demikian halnya untuk orang yang sakit. Pemberian makanan dan gizi seimbang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tubuh serta penyakitnya, menurut beberapa penelitian mempercepat proses penyembuhan dan mencegah komplikasi.
Peta kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa gangguan gizi masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama. Demikian pula dengan keadaan di rumah sakit prevalensi malnutrisi pada penderita yang dirawat di rumah sakit masih cukup tinggi. Awal tahun 70-an di Amerika Serikat, 50% penderita berbagai penyakit yang akan dirawat inap di bagian umum dan bedah rumah sakit sudah mengalami kurang energi protein (KEP), 10% diantaranya sudah mengalami KEP tingkat berat. Selanjutnya tahun 1976 melalui studi berkelanjutan, kira-kira 48% penderita yang dirawat inap di rumah sakit diketahui mengalami KEP sejak mengalami masa rawat inap 2 minggu. Penelitian lain yang dilakukan di Inggris tahun 1993 mendapatkan 40% yang dirawat inap di rumah sakit mengalami KEP,sedangkan di Thailand tahun 1999 sebanyak 30% penderita yang di rawat inap mengalami KEP. Hal ini menunjukkan bahwa pasien-pasien tersebut mengalami KEP selama dirawat di rumah sakit.
            Beberapa penelitian di Indonesia juga mendapatkan adanya penderita berbagai penyakit yang dirawat di rumah sakit mengalami KEP. Studi yang dilakukan di Jakarta tahun 1995-1999 menunjukkan 20-60% pasien rawat inap di rumah sakit umum mengalami KEP. Dengan catatan penderita sudah mengalami KEP saat masuk perawatan di rumah sakit. Simanjuntak (1985) menemukan 40% penderita rawat inap di bagian bedah rumah sakit Cipto Mangunkusumo mengalami KEP.
            KEP pada penderita berbagai penyakit yang dirawat di rumah sakit menurut beberapa penelitian memberikan dampak negative, antara lain: hasil pengobatan yang kurang efektif, penanganan dosis obat yang tidak memadai, timbulnya komplikasi-komplikasi sehingga meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. Sealain itu KEP pada penderita yang dirawat di rumah sakit akan memperpanjang masa rawat dan mengurangi turn over penderita yang dirawat inap.
Pengalaman dari Negara maju telah membuktikan bahwa KEP di rumah sakit merupakan problem yang kompleks dan dinamik serta memerlukan keterpaduian dalam perawatan penderita yang sakit. Oleh karena itu pelayanan kesehatan tidak mungkin ditangani oleh satu kelompok keahlian saja tetapi harus dilakukan oleh satu tim yang disebut tim dukungan gizi klinik.

II. DEFENISI ILMU GIZI KLINIK
            Secara umum ilmu gizi adalah ilmu yang mempelajari hubungan makanan dan kesehatan (Prof.Poerwo Soedarwo). Melihat batasan tersebut tampak bahwa ilmu gizi mempunyai kaitan erat dengan pengetahuan tentang makanan,bahan makanan, zat gizi Dn pengetahuan kesehatan, yakni tentang bagaimana manusia harus makan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dan bagaimana makanan dipergunakan sebagai salah satu cara untuk membantu penyembuhan berbagai penyakit.
Ilmu gizi klinik yang merupakan terjemahan dari clinical nutrition menurut American Society for clinical nutrition mempunyai defenisi Clinical Nutrition is a sciencethat is concerned basic knowledge relating to the diagnois and treatment of desease affecting the intake, absorbsion and metabolism of dietary constituents and to the promoting of healthy prevention of diet related desease.
            Dari uraian diatas jelas bahwa ilmu gizi klinik adalah bagian dari ilmu gizi yang mempergunakan ilmu kedokteran atau ilmu kedokterran yang mempergunakan ilmu gizi untuk memberikan gambaran bagaimana keadaan metabolisme tubuh manusia apakah berubah karena keadaan fisiologis atau patologis sehingga dapat melakukan bantuan pengobatan dalam bentuk makanan, Bantuan dalam bentuk makanan konvensional atau non konvensional harus disesuaikan dengan fungsi tubuh, gangguan fungsi organ tubuh, dan kemampuan tubuh untuk mencerna dan mengabsorbsi zat gizi dan zat lain yang terkandung dalam makanan.

III. RUANG LINGKUP
             Ilmu gizi klinik merupakan bentuk pathogenesis-based specialization yang melekat pada semua bentuk-bentuk spesialisasi lain. Keadaan ilmu gizi klinik analog dengan Onkologi atau Imunologi. Saat ini perkembangan ilmu ini telah menyentuh semua aspek spesialisasi ilmu kedokteran. Hal ini terbukti dengan kemajuan strategi terapi dan penelitian diberbagai bidang disiplin ilmu kedokteran seperti nutrisi dan hepatologi, nutrisi dan neoplasma, nutrisi dan kardiologi, nutrisi dan nefrologi, nutrisi dan imunologi.
            Aplikasi ilmu gizi klinik adalah terhadap orang yang terganggu kesehatannya atau orang yang berpotensi untuk menjadi sakit. Keadaan orang sakit tidak sama dengan orang sehat, dimana orang sakit sesuai dengan patofisiologi penyakitnya mengalami perubahan dalam asupan makanan (intake) perubahan daya cerna dan daya serap, serta perubahan metabolisme zat gizi. Untuk menanggulangi keadaan tersebut diperlukan jumlah, jenis, dan cara pemberian makanan yang tepat dan dapat direncanakan dan dilakukan oleh tenaga spesialis yaitu dokter spesialis gizi klinik.
IV. DIAGNOSA GANGGUAN NUTRISI DAN GANGGUAN METABOLIK
            Orang yang menderita penyakit sering mengalami perubahan metabolic yaitu bias meningkat, menurun, atau berubah sama sekali. Metabolisme yang meningkat misalnya pada stress metabolic yaitu pada tindakan bedah, infeksi, sepsis, trauma. Metabolisme menurun misalnya pada keadaan starvasi, KEP berat, dan hipotiroidisme. Metabolisme yang berubah sama sekali misalnya pada DM, renal failure, sirosis hepatic, hiperlipidemia, pulmonal diseade.
            Diagnosa gangguan nutrisi dan metabolic meliputi : (a)anamnesa tentang penyakit dan tentang asupan makanan, zat gizi, serta estimasi pengeluaran energi; (b) pemeriksaan komposisi tubuh (antropometri) (c) pemeriksaan biokimia dan hematologi nutrisi; serta (d) pemeriksaan status immunologi.
a.       Asupan makanan, zat gizi serta estimasi pengeluaran energi
Pengukuran asupan makanan dan zat gizi merupakan hal yang penting dalam diagnosa status gizi penderita. Pengukuran asupan makanan dan zat gizi juga penting dalam perencanaan terapi gizi untuk memperbaiki status gizi penderita.
Ada babarapa cara untuk menentukan asupan makanan serta zat gizi, misalnya dietary recall, dietary record, yang mana masing-masing cara memiliki keuntungan dan kerugiannya. Keberadaan dokter spesialis Gizi Klinik diperlukan untuk mengukur dan merencanakan asupan makanan dan zat gizi yang benar serta rasional sesuai dengan pengeluaran energi sehari-hari berdasarkan activity recall dan berorientasi pada patofisiologi penyakit serta perubahan metabolik.

b. Pengukuran komposisi tubuh
            Pengukuran komposisi tubuh sangat penting dalam praktek gizi klinik. Contoh pemeriksaan komposisi tubuh secara rutin untuk massa tanpa lemak bisa dilakukan  dengan pengukuran secara antropometri yang meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan, body mass index. Sedangkan contoh pemeriksaan komposisi tubuh dengan menggunakan peralatan canggih untuk massa tanpa lemak yaitu bioelectrical impedance analysis (BIA), dual energyx-ray absorphmetry(DEXA), coputerized tomography(CT).
c. Biokimia dan hematologi gizi
Pemeriksaan biokimia dan hematologi gizi berguna untuk menentukan status gizi penderita dan mendeteksi gangguan gizi spesifik yang dapat berdiri sendiri atau menyertai penyakit lain. Beberapa contoh pemeriksaan biokimia dan hemetologi gizi yang dapat dilakukan secara rutin adalah pemeriksaan profil lipid, status glikemik, status protein, dan status zat besi.
d. Interpretasi pengukuran imunologi
Status imunitas tubuh dapat dipakai sebagai indeks fungsional status gizi. Penderita KEP dan defisiensi zat gizi sering mengalami penurunan sistem imunitas tubuh yang selanjutnya berakibat meningkatnya morbiditas dan mortalitas. Pada kasus bedah elektif immunocompetence diukur dengan cara delayed typer hypersesitivity dipakai untuk menentukan Prognostic Nutritional Index (PNI) yang berguna untuk meramalkan morbiditas dan mortalitas sehingga perencanaan tindakan pengobatan dapat dilakukan secara paripurna.
Ada dua jenis respon imunitas seluler dan imunitas humoral yang mana keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena respon respon imunitas yang satu akan mempengaruhi yang lain. Hasil-hasil penelitian telah menunjukkkan bahwa imunitas seluler sangat dipengaruhi oleh status gizi. Beberapa cara telah dipakai untuk mengukur gangguan imunitas seluler yang berkaitan dengan status gizi, antara lain hitung total limfosit, delayed type hypersensitivity test


V. PENANGANAN KLINIK GANGGUAN GIZI DAN GANGGUAN METABOLIK
            Penanganan klinik dan gangguan metabolik telah berkembang seiring dengan majunya teknik diagnosa laboratorik. Kasus-kasus yang ditangani bidang gizi klinik di negara maju telah meliputi kasus rawat jalan maupun rawat inap. Sifat kemitraan dalam bidang kedokteran di negara maju tertuang dalam Clinical Nutrition and Multidiciplinary Clinic. Klinik ini menangani kasus-kasus gangguan makan dan komposisi tubuh (eating and body compossition disorders), gangguan metabolik kompleks (complex metabolic disorders) seperti penyakit obesitas, Diabetes Mellitus, hiperlipidemia, sirosis hepatis, cronic renal failure, kanker. Pelayanan penderita yang bersifat multidisipliner ini terbukti mampu memberikan pelayanan holistik dan paripurna kepada penderita yang membutuhkannya.

VI. PERANAN DUKUNGAN GIZI DALAM MENUNJANG OPTIMASI PENYEMBUHAN
            Perawatan penderita secara holistik dan paripurna pada penderita rawat jalan atau rawat inap, merupakan tantangan bagi semua klinisi bidang kedokteran. Dalam kaitan ini, perawatan multidisipliner demi tercapainya penyembuhan paripurna sebaiknya dilaksanakan, dan dukungan gizi pada berbagai penyakit telah terbukti dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas.
            Pemberian makanan dan zat gizi untuk penderita berbagai penyakit sifatnya individual, dengan memperhatikan anamnesa, pemeriksaan komposisi tubuh, pemeriksaan fisik, laboratorik serta memperhatikan patofisiologi dan perubahan metabolik akibat penyakit tersebut. Hal lain yang harus diperhatikan adalah kandungan zat gizi dalam makanan, perubahan molekul zat gizi pada proses pengolahan makanan, perubahan molekul zat gizi pada proses digesti, absorbsi dan metabolisme, serta organ yang terlibat dalam proses digesti, absorbsi, dan metabolisme.
            Peritungan dan perhitungan energi untuk orang sakit tergantung pada umur, jenis kelamin, berat badan, aktifitas fisik sehari-hari, SDA dan perubahan metabolisme yang terjadi akibat penyakitnya (injury factor). Penetapan komposisi zat gizi pembentuk energi tergantung dari diagnosa penyakit dan fungsi organ, misalnya karbohidrat sederhana harus rendah untuk penderita DM, protein terbatas dengan protein bernilai biologis tingi untuk GGK yang belum hemodialisis. Penetapan kebutuhan vitamin, mineral, elektrolit dan cairan umumnya sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKGD). Namun kebutuhan elektrolit dan cairan tergantung dari pemeriksaan klinis dsan laboratoris.
            Penetapan kepekatan makanan yaitu bisa cair, saring, lunak lembek, atau biasa tergantung dari kondisi saluran cerna. Penetapan rute pemberian makanan misalnya oral biasa, oral khusus, enteral, parenteral bisa dilakukan tergantung dari penyakitnya dan kondisi saluran pencernaan. Sedangkan frekuensi dan penetapan jadwal pemberian makanan selain tergantung dari penyakitnya dan kondisi saluran cerna juga harus dilakukan monitoring, khususnya dampak pemberian makanan terhadap status gizi dan perubahan metabolik penderita. Selain itu yang harus dimonitor adalah faktor-faktor yang mempengaruhi asupan gizi seperti kondisi nafsu makan, jumlah sisa makanan yang tidak dikonsumsi, makanan dari luar rumah sakit yang dikonsumsi, serta reaksi saluran pencernaan terhadap makanan.

VII. DUKUNGAN MONITORING GIZI
            Tujuan monitoring gizi adalah untuk mengantisipasi dan memperkecil kemungkinan komplikasi yang berhubungan dengan pemberian makanan (feeding) dan memastikan adekuasi dukungan gizi.
            Setelah kondisi pasien stabil, penilaian dapat dialkukan dua kali semingu dengan pemeriksaan hitung darah lengkap, skrining koagulasi (bila pasien menjalani terapi koagulasi yang penuh atau mendapatkan terapi profilaksis dengan heparin), pemeriksaan ureum dan elektrolit, serta pemeriksaan kalsium.
            Dilakukan juga pemeriksaan berat badan dan faal hepar (termasuk pemeriksaan kadar albumin, transferin, dan prealbumin), keseimbangan nitrogen, MAC, MAMC, dan TSF seminggu sekali.
            Pasien yang mendapatkan NE atau NPT jangka panjang, diperlukan pemeriksaan tambahan kadar unsur-unsur mineral dan vitamin bila memungkinkan.
READ MORE - ILMU GIZI KLINIK


NUTRISI PADA DIABETES MELITUS
Oleh dr. Yulia Wardany

Diabetes Melitus (DM) adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang mengalami peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan hormone insulin secara absolute atau relative yang ditandai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Seraing terjadi hiperglikemia dan glukosuria.
DM.berhubungan dengan berbagai komplikasi. Komplikasi kronik utama yaitu mempercepat terjadinya penyakit makrovaskular (penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh darah perifer, dan penyakit serebrovaskuler), retinopati, nefropati, dan neuropati Komplikasi akut antara lain : diabetic ketoasidosis (DKA), hipoglikemia, hiperglikemia hiperosmolar nonketotik koma, dan infeksi. Dalam pengaturan makan harus diingat beberapa faktor yang mempengaruhi pengaturan makan yaitu:
1.      Pola makan
Penderita DM sering merasa lesu, lemah dan lapar karena hakikatnya sel-sel organ menderita KEP karena glukosa dan asam amino susah memasuki sel. Kondisi ini akan menyebabkan pola makan penderita DM berubah yaitu :
  1. Porsi besar
  2. Frekuensi sering, ngemil
  3. Suka terhadap makanan yan dibuat dari KH sederhana seperti: permen, coklat, soft drink, sirup, roti, mie, kue, dll.
Pola kebiasaan makan seperti itu menyebabkan penderita tidak disiplin dalam mematuhi aturan makan yang diberikan. Tetapi anehnya banyak penderita DM yang tahan berpuasa 12 – 14 jam tanpa makanan dan minuman..
2.      Status gizi.
Diawal dan sebelum DM manifes, penderita NIDDM sering dalam kondisi kelebihan gizi atau kegemukan. Upaya menurunkan BB sering efektif untuk mencegah kadar glukosa darah naik dan dapat memelihara kadar normal glukosa darah.
Pada DM lanjut, sering penderita dalam kondisi gizi buruk dan pengaturan makan sering harus disertai dengan terapi medikamentosa.

3.      Kondisi metabolik dan komplikasi DM
Metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein penderita DM berubah yang ditandai dengan: hiperglikemi dan dislipidemi.
Hiperglikemi menyebabkan glukosaria yang menimbulkan poliuri dan polidipsi sehingga terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Hiperglikemi juga menyebabkan proses glikasilasi pada sel organ yang tidak tergantung pada insulin.

Glikasilasi yaitu reaksi non-ezimatic anatara karbohidrat dengan protein struktur sel suatu organ sehingga fungsi organ terganggu. Glikasilasi ini menyebabkan munculnya komplikasi DM seperti: nefropati, retinopati, neuropati, visus menurun, aterosklerosis dan peningkatan HbA1C melebihi 6 %.
Perubahan metabolisme protein ditandai dengan proteolisis di otot, peningkatan glukoneogenesis di hepar yang kemudian lebih meningkatkan lagi glukosa darah. Perubahan metabolisme lemak menimbulkan dislipidemia, ketosis, ketoasidosis, dan komplikasi dislipidemia dan aterosklerosis menyebabkan CHD.

Tujuan penyusunan gizi penderita DM adalah :
1.      Menormalkan (mendekati normal) kadar glukosa darah dengan menyeimbangkan asupan makanan dengan insulin dengan obat penurun glukosa oral dan aktifitas fisik.
2.      Mencegah terjadinya dislipidemia
3.      Mencegah terjadinya komplikasi
4.      Mencapai berat badan yang diinginkan.
5.      Meningkatkan derajat kesehatan menyeluruh melalui gizi optimal.
Pengaturan makan harus disertai dengan perubahan pola makan dan pola aktifitas fisik. Dengan olahraga teratur sel organ lebih sensitif terhadap insulin yaitu glukosa masih bisa masuk ke dalam sel walaupun insulin rendah.

Syarat Diet Penyakit Diabetes Melitus adalah :
  1. Energi cukup untuk mencapai  dan mempertahankan berat badan normal. Kebutuhan energi ditentukan dengan memperhitungkan kebutuhan untuk metabolisme basal sebesar 25-30 kkal/kgBB normal, ditambah kebutuhan untuk aktifitas fisik dan keadaan khusus misalnya kehamilan atau laktasi serta ada tidaknya komplikasi. Makanan dibagi dalam tiga porsi besar, yaitu makan pagi (20%), siang (30%), sore (25%), serta 2-3 porsi kecil untuk makanan selingan (masing-masing 10-15%).
  2. Kebutuhan protein normal, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total.
  3. Kebutuhan lemak sedang, yaitu 20-25% dari kebutuhan energi total. Kolesterol ≤300 mg/hari.
  4. Karbohidrat 60-70%, terutama karbohidrat kompleks dengan indeks glikemik yang rendah.
  5. Penggunaan gula murni dalam minuman dan makanan tidak diperbolehkan kecuali sedikit sebagai bumbu masakan. Bila kadar gula darah terkendali diperbolehkan mengkonsumsi gula murni sampai 5% dari kebutuhan energi total.
  6. Penggunaan gula alternative (selain sakarosa) dalam jumlah terbatas. Ada dua jenis ngula alternative yaitu yang bergizi (fruktosa, gula alcohol berupa sorbitol, manitol, dan silitol) dan gula alternative tidak bergizi (aspartame dan sakarin).
  7. Asupan serat 25-50 g/hari dengan mengutamakan serat larut air.
  8. Asupan natrim pada penderita DM tanpa hiprtensi yaitu1-3 g/hari, tetapi bila terdapat hipertensi asupan natrium dikurangi.
  9. Cukup vitamin dan mineral.

Jenis diet dan indikasi pemberian
Diet yang digunakan sebagai bagian dari penatalaksanaan DM dikontrol bardasarkan kandungan energi, protein, lemak, dan karbohidrat. Sebagai pedoman dipakai 8 jenis diet DM seperti dalam tabel berikut:

Jenis Diet    Energi(kkal)        Protein(g)                Lemak(g)                Karbohidrat(g)
I                     1100                       43                            30                             172
II                    1300                       45                            35                             192
III                   1500                       51,5                         36,5                          235
IV                   1700                       55,5                         36,5                          275
V                    1900                       60                             48                            299
VI                  2100                        62                             53                            319
VII                 2300                        73                            59                            369
VIII               2500                        80                             62                           396

Bahan Makanan Sehari
Jumlah bahan makanan sehari untuk tiap standar diet DM dinyatakan dalam satuan penukar. Daftar bahan makanan penukar yang digunakan adalah Daftar Bahan Makanan Penukar II. Pembagian makanan sehari untuk tiap standar diat DM dapat dilihat pada tabel berikut:

Golongan Bahan Makanan
Standar Diet
1100 kkal
1300 kkal
1500 kkal
1700 kkal
1900 kkal
2100 kkal
2300 kkal
2500 kkal
Nasi atau penukar
Ikan atau penukar                 
Daging atau penukar
Tempe atau penukat
Sayuran/penukar A
Sayuran/penukar B
Buah atau penukar
Susu atau penukat
Minyak atau penukar
2,5
2
1
2
S
2
4
-
3                   
3
2
1
2
S
2
4
-
4
4
2
1

S
2
4
-
4
5
2
1

S
2
4
-
4

2
1
3
S
2
4
-
6
6
2
1
3
S
2
4
-
7
7
2
1
3
S
2
4
1
7

2
1
5
S
2
4
1
7


Bahan makanan yang dianjurkan
Bahan makanan yang dianjurkan untuk Diet DM adalah sebagi berikut :
1.      Sumber karbohidrat kompleks tinggi serat dan rendah indeks glikemik, seperti nasi, roti, mi, kentang, singkong, ubi, dan sagu.
2.      Sumber protei rendah lemak, seperti ikan, ayam tanpa kulit, susu skim, tempe, tahu, putih telur dan kacang-kacangan.
3.      Sumber lemak dalam jumlah terbatas yaitu bentuk makanan yang mudah dicerna. Makanan terutama diolah dengan cara dikukus, dipanggang, disetup, direbus, dan dibakar. Minyak yang tinggi  MUFA seperti minyak zaitun dan sawit.

Bahan makanan yang tidak dianjurkan (dibatasi/dihindari)
Bahan makanan yang tidak dianjurkan pada penderita DM adalah :
1.      Mengandung banyak gula sederhana, seperti :
a.       Gula pasir, gula jawa
b.      Sirop, jam, jelli, buah-buahan yang diawetkan dengan gula, susu kental manis, minuman botol ringan, dan es krim.
c.       Kue-kue manis, dodol, cake, tar.

2.      Mengandung banyak lemak, seperti cake, fast food, goreng-gorengan.
3.      Mengandung banyak natrium, seperti: ikan asin, telur asin, makanan yang diawetkan.
4.      Sumber karbohidrat yang tinggi indeks glikemik(cair/lembek/sangat terolah seperti tepung dan gula), rendah serat.
5.      Sumber lemak rendah PUFA, rendah MUFA, tinggi SAFA.







DIET PENYAKIT DM DENGAN NEFROPATI
Tujuan Diet
Tujuan Diet penyakit DM dengan komplikasi nefropati diabetic adalah untuk mencapai dan mempertahankan status gizi optimal serta menghambat laju kerusakan ginjal, dengan cara:
  1. Mengendalikan kadar glukosa darh dan tekanan darah.
  2. Mencegah menurunnya fungsi ginjal.
  3. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.


Syarat Diet
Syarat-syarat diet penyakit DM dengan nefropati adalah :
  1. Energi adekuat, yaitu 25-30 kkal/kgBB ideal.
  2. Protein rendah, 10% dari kebutuhan energi total atau 0,8 g/kgBB. 65% dari kebutuhan protein berasal dari sumber protein bernilai biologic tinggi.
  3. Karbohidrat sedang, yaitu 55-60% dari total kebutuhan energi.
  4. Lemak normal. Utamakan PUFA atau MUFA. SAFA hendaknya <10% asupan energi total.Kolesterol<300 mg/hari.
  5. Natrium 1-3 g, tergantung pada tekanan darah, adanya edema, dan ekskresi natrium.
  6. Kalium dibatasi hingga 40-70 mEq atau 40 mg/kgBB bila ada hiperkalemi (GFR ≤10 ml/menit) atau bila jumlah urin <1000 ml/hari.
  7. Posfor tinggi 8-12 mg/kgBB (diperlukan pengikat fosfor)

READ MORE - NUTRISI, Diet, Aturan Makan, dan Gizi PADA DIABETES MELITUS

DIET PENYAKIT ARTRITIS GOUT (Asam Urat)
Oleh dr. Yulia Wardany

  Artritis Gout (AG) adalah penyakit yang disebabkan oleh metabolisme abnormal purin yang ditandai dengan meningkatnya kadar asam urat dalam darah. Penderita biasanya mengeluh nyeri hebat mendadak terutama pada sendi ibu jari kaki atau lutut akibat penumpukan kristal asam urat di jaringan ikat sekitar sendi dan juga di dalam ruang sendi. AG berhubungan dengan keadaan hiperurisemia yang terjadi karena meningkatnya asam urat endogen dan pemasukan asam urat eksogen yang berlebihan, serta adanya gangguan ekskresi oleh ginjal. Asam urat merupakan produk akhir dari metabolisme purin, adenine, dan guanine di dalam tubuh. Diet pada AG diberikan apabila kadar asam urat di dalam darah>7,5 mg/dl diberikan diet rendah purin, rendah lemak, cukup vitamin dan mineral. Diet ini dapat menurunkan berat badan, bila ada tanda-tanda berat badan berlebih.  

Tujuan Diet
  1. Mencapai dan mempertahankan status gizi optimal
  2. Menurunkan kadar asam urat dalam darah dan urin dengan cara: mengurangi asupan asam urat eksogen dari makanan, menghilangkan factor penyebab meningkatnya produksi asam lemak endogen, dan mengontrol penyebab menurunnya ekskresi asam urat oleh ginjal.
  3. Menurunkan BB secara baik, benar, dan sehat.
Syarat Diet
  1. Energi sesuai dengan kebutuhan tubuh. Bila berat badan berlebihan atau kegemukan, asupan energi sehari.dikurangi secara bertahap sebanyak 500-1000 kkal dari kebutuhan energi normal hingga tercapai berat badan normal.
  2. Protein cukup, yaitu 1,0-1,2 g/kgBB atau 10-15% dari kebutuhan energi total. Hindari makanan yang mengandung purin tinggi (>150/100g).
  3. Lemak sedang yaitu 10-20% dari kebutuhan energi total. Lemak berlebih dapat menghambat pengeluaran asam urat atau purin melalui urin.
  4. Karbohidrat dapat diberikan lebih banyak, yaitu 65-75% dari kebutuhan energi total. Dianjurkan untuk menggunakan sumber energi kompleks.
  5. Vitamin dan mineral cukup sesuai dengan kebutuhan.
  6. Cairan disesuaikan dengan urin yang dikeluarkan setiapi. Rata-rata asupan cairan yang dianjurkan adalah 2-21/2 liter/hari.
  Disamping asupan makanan rendah purin, penatalaksanaan diet pada AG juga harus dapat mengontrol menurunnya pengeluaran asam urat melalui ginjal. Hal-hal yang harus diperhatikan antaranya menghindari alcohol, makanan rendah karbohidrat kompleks, tinggi lemak misalnya jeroan, kerupuk, kikil, sop buntut, dll, dan kurang cairan(kurang minum) sehingga urin menjadi asam.

Asam urat lebih mudah larut pada urin yang bersifat alkalis. Makanan lain yang harus dihindari yaitu yang mengandung fruktosa tinggi dan gula sukrosa/gula pasir seperti permen, sirup, kolak, kue bakery yang manis, cendol.   Pengelompokan Bahan Makanan Menurut Kadar Purin Dan Anjuran Makan
Kelompok 1 : Kandungan purin tinggi (100-1000 mg purin/100 g bahan makanan) sebaiknya dihindari. Otak, hati, jantung, ginjal, jeroan, ekstrak daging/kaldu,bouillon, bebek, ikan sarden, makarel, remis, kerang.   
Kelompok 2 : Kandungan purin sedang (9-100 mg purin/100 g bahan makanan ) dibatasi : makanan 50-75 g (1-11/2 ptg) daging, ikan atau ungggas, atau 1 mangkok (100 g) sayuran sehari. Daging sapi dan ikan ( kecuali yang terdapat dalam kelompok I) ayam, udang, kacang kering dan hasil olahan, seperti tahu tempe, asparagus, bayam, dan daun singkong, kangkung, daun dan biji melinjo.
Kelompok 3 : Kandungan purin rendah (dapat diabaikan) dapat dimakan setiap hari. Nasi, ubi, singkong, jagung, roti, mi, bihun, tepung beras, cake, kue kering, pudding, susu, keju, telur, lemak dan minyak, gula, sayuran dan buah-buahan ( kecuali sayuran dalam kelompok 2).
READ MORE - DIET PENYAKIT ARTRITIS GOUT, Asam Urat, Pirai


DIET PADA PENYAKIT GINJAL DAN SALURAN KEMIH
Oleh dr. Yulia Wardany

Fungsi ginjal adalah memelihara keseimbangan homeostatic cairan, elektrolit, dan bahan-bahan organic dalam tubuh. Hal ini terjadi melalui proses filtrasi, reabsorbsi, dan sekresi. Disamping itu ginjal mempunyai fungsi endikrin penting, seperti sintesis hormone eritropoetin serta sekresi rennin dan aldosteron, mengubah vitamin D menjadi bentuk aktif, dan degrasi berbagai jenis hormon Diet khusus diperlukan bila fungsi ginjal terganggu, yaitu pada penyakit-penyakit: (1) Gagal Ginjal Kronik; (2) Gagal Ginjal Akut; (3) Sindroma Nefrotik; (4) Gagal GInjal Terminal yang membutuhkan transplantasi ginjal atau dialysis; (5) Batu Ginjal. Diet pada penyakit ginjal ditekankan pada pengontrolan asupan energi, protein, cairan, natrium, kalium, kalsium, dan fosfor.
1. Diet pada gagal ginjal kronik.
Gagal ginjal kronik adalah keadaan dimana terjadi penurunan fungsi ginjal yang cukup berat secara perlahan-lahan disebabkan oleh berbagai penyakit ginjal. Penyakit ini bersifat progresif dan umumnya tidak dapat pulih kembali (irreversible). Gejala penyakit ini umumnya adalah tidak ada nafsu makan, mual, muntah, pusing, sesak nafas, rasa lelah, edema pada kaki dan tangan, serta uremia. Apabila nilai Glomerulo Filtration Rate (GFR) atau tes Kliren Kreatinin < 25 ml/menit, diberikan diet protein rendah.  

Tujuan Diet pada GGK adalah unutk :
  1. Untuk mencapai dan mempertahankan status gizi optimal dengan memperhitungkan sisa fungsi ginjal, agar tidak memberatkan kerja ginjal.
  2. Mencegah dan menurunkan kadar ureum darah yang tinggi.
  3. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.
  4. Mencegah atau mengurangi progresivitas gagal ginjal, dengan memperlambat turunnya laju GFR.
    Syarat-syarat diet penyakit GGK adalah :
  1. Energi cukup, yaitu 35 kkal/kg BB yang harus terpenuhi dari karbohidrat dan lemak.
  2. Protein rendah, yaitu 0.6 – 0.75 g/kg BB, 2/3 dari intake protein harus berasal dari protein bernilai biologi tinggi (hewani), 1/3 berasa dari protein nabati.
  3. Lemak cukup, yaitu 20 – 30 % kebutuhan energi total, diutamakan lemak tidak jenuh ganda, kolestero tidak lebih dari 300 mg/hari.
  4. Karbohidrat cukup, terutama yang berasal dari karbohidrat komplek dengan tujuan mengurangi sintesis trigliserida dan untuk meningkatkan toleransi glukosa.
  5. Natrium dibatasi apabila ada hipertensi, edema, asites, oliguria, atau anuria. Banyaknya Natrium yang dianjurkan 1 – 3 g/hari.
  6. Kalium dibatasi 40 – 70 mEq/hari apabila ada hiperkalemia, oliguria, anuria.
  7. Cairan dibatasi sebanyak jumlah urin sehari ditambah pengeluaran cairan melalui keringat dan pernafasan.
  8. Vitamin cukup bila perlu diberikan suplemen piridoksin, asam folat, vitamin C, dan vitamin D.
Jenis-jenis diet yang diberikan menurut berat badan pasien, yaitu :
  1. Diet protein rendah I : 30 g protein. Diberikan kepada pasien dengan berat badan 50 kg.
  2. Diet protein rendah II : 35 g protein. Diberikan kepada pasien dengan berat badan 60 kg.
  3. Diet protein rendah III : 40 g protein. Diberikan kepada pasien dengan berat badan 65 kg.
  Penderita GGK yang menjalani terapi Hemodialisis sering mengalami KEP akibat anoreksia, gangguan metabolisme protein dan energi yang disebabkan oleh toksin uremia, gangguan hormon, dan akibat katabolisme dalam proses hemodialisis. Sehingga dianjurkan untuk menambah makanan suplemen (seperti asam amino esensial atau Keto-acids), bahkan dianjurkan untuk dilakukan enteral nutrition ataupun parenteral nutrition. Secara rutin dilakukan pemeriksaan laboratorium, pengukuran antropometri dan diatery protein intake.  
2. Diet Pada Gagal Ginjal Akut
GGA adalah suatu sindrom yang ditandai oleh penurunan GFR atau tes klieren kreatinin dan terganggunya fungsi pengeluaran produk sisa metabolisme secara progresif, tiba-tiba, dan reversibel. Pemberian diet adalah GGA harus disesuaikan dengan proses hiperkatabolisme yang dipengaruhi oleh : (1) berat ringannya penyakit; (2) gangguan fungsi ginjal; (3)status gizi pasien; (4) jenis terapi yang diberikan.  

Tujuan diet pada GGA adalah untuk:
  1. Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan fungsi ginjal.
  2. Menurunkan kadar ureum darah.
  3. Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.
  4. Memperbaiki dan mempertahankan status gizi optimal dan mempercepat penyembuhan.
Syarat diet GGA adalah :
  1. Energi cukup untuk mencegah katabolisme, yaitu 25 – 35 kkal/kg BB
  2. Protein disesuaikan dengan katabolisme protein, yaitu 0.6 – 1.5 g/kg BB. Pada katabolik ringan kebutuhan protein 0.6 – 1 g/kg BB, katabolik sedang 0.8 – 1.2 g/kg BB dan katabolik berat 1 – 1.5 g/kg BB. Pada penderita GGA yang tidak bisa makan melalui oral atau enteral diberikan melalui parenteral sebanyak 0.55 – 0.6 g/kg BB asam amino esensial dan non esensial.
  3. Lemak sedang, yaitu 20 – 30 % dari kebutuhan energi total. Untuk katabolisme berat dianjurkan 0.8 – 1.5 g/kg BB.
  4. Karbohidrat cukup, diberikan sebanyak 75 % dari total kebutuhan energi.
  5. Natrium dan Kalium dibatasi bila ada anuria. Intake Natrium, Kalium dan Fosfor harus diawasi untuk mencegah terjadinya overload dan penumpukan zat-zat tersebut.
  6. Cairan sebagai pengganti cairan yang keluar melalui muntah, diare, dan urin ditambah 500 ml.
  7. Bila kemampuan untuk makan rendah diberikan dalam bentuk formula enteral atau parenteral. Bila diperlukan tambahkan suplemen asam folat, vitamin B6, vitamin C, vitamin A, dan vitamin K.
3. Diet pada sindroma nefrotik
Sindroma nefrotik adalah kumpulan manifestasi penyakit yang ditandai oleh ketidakmampuan ginjal untuk memelihara keseimbangan nitrogen sebagai akibat meningkatnya permeabilitas membrane kapiler glomerulus. Sindroma nefrotik ditandai oleh hipoalbumin, hiperlipidemia, lipiduria, proteinuria massif (3,5 g protein/24 jam) dan adanya edema. Akibat dari hipoalbumin juga terjadi penurunan kadar Fe, Zn, vitamin D, dan penurunan plasma protein.  

Tujuan diet pada sindroma nefrotik
  1. Mengganti kehilangan protein terutama albumin
  2. Mengurangi edema dan menjaga keseimbangan cairan tubuh.
  3. memonitor hiperkolesterolemia dan penumpukan trigliserida.
  4. Mengontrol hipertensi.
  5. Mengatasi anoreksia
Syarat diet Sindroma nefrotik adalah :
  1. Energi cukup untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen positif, yaitu 35 kkal/kgBB per hari.
  2. Protein sedang, yaitu 1,0 g/kgBB atau 0,8 g/kgBB ditambah jumlah protein yang keluar melalui urin. Utamakan protein bernilai biologi tinggi.
  3. Lemak sedang, yaitu 15-20% dari kebutuhan energi total. Diberikan satturated fat, monosaturated fat, polysaturated fat masing-masing 10%.
  4. Karbohidrat sebagai sisa kebutuhan energi. Utamakan karbohidrat kompleks
  5. Natrium dibatasi, 1-4 g/hari tergantung berat ringannya edema.
    1. Kolesterol dibatasi <300 mg, begitu pula gula murni bila ada peningkatan trigliserida darah
    2. Cairan disesuaikan dengan banyaknya cairan yang dikeluarkan melalui urin ditambah 500 ml.
    3. Kalsium dibutuhkan lebih banyak minimal 800 mg/hari.
READ MORE - DIET PADA PENYAKIT GINJAL DAN SALURAN KEMIH